Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menegaskan komitmennya untuk membawa revolusi teknologi dalam penanganan krisis sampah nasional. Melalui proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), Danantara memastikan bahwa sistem infrastruktur yang akan dibangun menggunakan teknologi mutakhir yang jauh lebih maju. Bahkan, kecanggihan teknologi ini diklaim melampaui 80 persen sistem pengelolaan sampah serupa yang saat ini dioperasikan oleh China, salah satu negara pionir paling sukses dalam konversi sampah menjadi energi.
Langkah strategis ini diambil guna memastikan proyek PSEL di Indonesia tidak mengulangi kegagalan metode lama. Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menekankan bahwa sistem insinerasi yang akan diimplementasikan memiliki spesifikasi yang sangat ketat dan mengutamakan aspek kelestarian lingkungan. Pengolahan ini dirancang dengan standar emisi yang sangat bersih, bahkan melampaui regulasi baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh Uni Eropa maupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Teknologi Insinerasi Sempurna dan Ramah Lingkungan Perbedaan mendasar antara teknologi baru ini dengan pembakaran sampah konvensional terletak pada suhu pembakaran dan sistem penyaringan residu beracun. Melalui skema modern ini, proses pembakaran dipastikan berjalan sempurna demi meminimalkan dampak buruk terhadap atmosfer bumi.
Pembakaran suhu tinggi yang mencapai 1.000 derajat celsius untuk memastikan pemusnahan sampah secara sempurna tanpa menyisakan zat berbahaya.
Penggunaan teknologi multitahap (filtering) guna menangkap seluruh senyawa gas residu yang beracun sebelum dilepaskan ke udara.
Penerapan regulasi yang mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 yang melarang keras penggunaan teknologi eksperimental yang belum teruji.
Pengumuman Tender dan Peta Jalan Infrastruktur PSEL Komitmen ini akan segera memasuki babak baru dengan rencana pengumuman hasil lelang proyek PSEL tahap pertama yang dijadwalkan pada pertengahan Februari 2026. Proses konstruksi fisik di lapangan ditargetkan dapat berjalan mulai Maret 2026 dengan estimasi masa pengerjaan memakan waktu antara 1,5 hingga dua tahun. Untuk tahap awal, fasilitas ini akan diprioritaskan di empat wilayah yang dinilai paling siap dari segi tata ruang dan kesiapan wilayah, yaitu Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi.
Secara keseluruhan, Danantara menetapkan tujuh wilayah metropolitan di Indonesia sebagai pusat pengembangan ekosistem PSEL ini. Selain empat wilayah utama di atas, proyek ini juga mencakup wilayah Tangerang Raya, Kota Semarang, dan Medan Raya. Dari sekitar 200 penyedia teknologi global yang mendaftar, Danantara kini telah menyaring 24 perusahaan asing terpilih asal China, Prancis, dan Jepang yang masuk ke dalam Daftar Penyedia Teknologi (DPT). Perusahaan-perusahaan global tersebut nantinya diwajibkan membentuk konsorsium bersama dengan mitra korporasi lokal yang kapabel.
Meski megaproyek ini diproyeksikan mampu mengolah 1.000 hingga 1.500 ton sampah per lokasi dengan kapasitas akumulatif maksimal hingga 50.000 ton per hari, Danantara mengingatkan bahwa PSEL bukanlah satu-satunya jawaban tunggal. Dengan volume timbulan sampah nasional yang menembus angka 140.000 ton per hari, konversi energi ini diperkirakan hanya mampu mengentaskan sekitar 30 persen dari total permasalahan makro sampah di Indonesia. Sisanya, pemerintah mengimbau perlunya sinergi metode lain seperti gasifikasi, perluasan area insinerasi ramah lingkungan, serta gerakan pemilahan sampah yang masif dari hulu ke hilir.
Sumber: lestari.kompas.com