Dituduh Terafiliasi Parpol hingga Dipinjamkan Mobil, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardiyanto Buka Suara

Dituduh Terafiliasi Parpol hingga Dipinjamkan Mobil, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardiyanto Buka Suara

Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardiyanto, akhirnya angkat bicara guna menanggapi rentetan tudingan miring yang diarahkan kepadanya baru-baru ini. Tudingan yang mencakup isu afiliasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), peminjaman kendaraan operasional, hingga isu personal seperti LGBT, dinilai Tiyo sebagai upaya sengaja untuk menyibukkan dirinya agar teralih dari isu-isu strategis. Saat ditemui di lingkungan kampus UGM, Sleman, Tiyo menegaskan bahwa dirinya tetap berdiri sebagai individu yang merdeka dan independen demi mengawal jalannya kekuasaan secara benar.

Dugaan Aliansi Politik dan Fasilitas Mewah Polemik ini mencuat setelah adanya pernyataan sikap dari aliansi BEM Fakultas Bersatu yang disampaikan oleh Rahmat Djimbula, Ketua BEM Hukum Universitas Islam Jakarta (UIC), dalam konferensi pers di Utan Kayu, Jakarta Timur. Pihak aliansi menyoroti pergerakan Tiyo yang diduga memiliki kedekatan dengan jejaring politik tertentu, yang diperkuat oleh beberapa temuan operasional di lapangan. Aliansi BEM Bersatu menilai gerakan mahasiswa harus murni menjadi suara rakyat dan bukan alat untuk memperebutkan kekuasaan.

Berikut adalah beberapa poin utama yang disoroti oleh pihak aliansi:

Penggunaan mobil Fortuner yang diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, salah satu tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

Kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah-tengah massa aksi yang digerakkan.

Rencana keterlibatan Tiyo dalam forum dialog bersama tokoh-tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa, di mana Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga dijadwalkan hadir.

Tiyo Pertanyakan Validitas Penuduh Merespons tuduhan tersebut, Tiyo tidak hanya membantah melainkan juga mempertanyakan kredibilitas dan keabsahan aliansi BEM Fakultas Bersatu. Berdasarkan pengecekan yang dilakukannya pada organisasi kampus tempat mereka berkuliah, Tiyo mengklaim menemukan banyak manipulasi identitas di dalam aliansi yang baru ia ketahui tersebut. Ia menyatakan bahwa dari 14 orang yang mengaku sebagai bagian dari aliansi, terdapat oknum yang ternyata bukan mahasiswa, ada yang sudah lulus, hingga ada yang mengaku sebagai ketua BEM padahal bukan.

Tiyo menegaskan bahwa dalam prinsip hukum, pihak yang menuduh memiliki kewajiban penuh untuk membuktikan tuduhannya. Mengenai tudingan lain yang bersifat personal seperti isu LGBT karena belum memiliki kekasih, atau tuduhan sebagai pengikut Anies Baswedan karena pernah berada dalam satu forum alumni ketua BEM, ia menganggapnya sebagai bagian dari upaya pembunuhan karakter untuk membuatnya gentar. Tiyo memilih menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada masyarakat berdasarkan narasi substansial yang ia suarakan, ketimbang terjebak dalam praktik "cocoklogi" politik yang tidak berdasar.

Sumber: detik.com