Gedung Graha Mina Samudra di kawasan Mayangan, Kota Probolinggo, menjadi saksi bisu berkumpulnya ratusan aktivis mahasiswa dalam acara Dialog Publik memperingati Hari Lahir Pancasila pada Rabu (24/6/2026) malam. Mengusung tema besar "Pancasila Menjaga Arah Indonesia", forum kebangsaan ini diinisiasi melalui kolaborasi lintas organisasi, yakni PAC GP Ansor Wonoasih, PC PMII Probolinggo, dan DPC GMNI Probolinggo. Pertemuan ilmiah ini juga diintegrasikan dengan pelaksanaan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) PMII sebagai bagian dari proses kaderisasi formal organisasi tersebut. Namun, di balik antusiasme intelektual yang tinggi, jalannya acara sempat dibayangi oleh isu miring mengenai rencana pembubaran paksa secara sepihak oleh oknum organisasi kemasyarakatan (ormas) tertentu.
Meskipun diterpa isu intimidasi, jalannya diskusi yang berlangsung sejak pukul 19.30 hingga 22.00 WIB ini tetap menghadirkan eskalasi pemikiran yang berbobot dari para narasumber nasional dan daerah. Dipandu oleh Dr. Zainullah selaku Wakil Ketua IX PC GP Ansor Kota Probolinggo, forum tersebut menghadirkan tokoh-tokoh vokal, seperti mantan Ketua BEM UGM 2025 Tiyo Ardianto, Presiden LSM LIRA Indonesia Samsuddin, mantan Ketua Badko HMI Jawa Timur periode 2013-2016 Khairul Anam, serta Ketua Bidang Akademik PAC GP Ansor Wonoasih Muh Rayhan. Kehadiran para tokoh ini sekaligus menjadi penegas bahwa kegiatan tersebut murni merupakan respons intelektual atas berbagai dinamika kebangsaan dan isu nasional yang sedang berkembang di masyarakat, sekaligus sebagai upaya menjaga iklim demokrasi di daerah agar tetap kondusif.
Kecaman Terhadap Tindakan Intimidasi dan Premanisme
Sorotan tajam mengemuka dari para pembicara terkait adanya ancaman intervensi fisik di ruang akademik tersebut. Perwakilan narasumber menegaskan bahwa upaya pembubaran tanpa prosedur hukum yang sah merupakan bentuk tindakan premanisme yang harus diantisipasi oleh aparat kepolisian. Pihak penyelenggara mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat dilindungi oleh undang-undang, sehingga setiap perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui adu gagasan dan argumentasi, bukan dengan arogansi kekuasaan atau tekanan fisik.
Perlunya perlindungan penuh terhadap hak konstitusional mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi di ruang publik.
Penolakan keras terhadap segala bentuk premanisme dan intimidasi oleh oknum ormas dalam forum diskusi ilmiah.
Desakan kepada aparat penegak hukum untuk memfasilitasi dan menjaga ruang demokrasi agar tidak diintervensi pihak luar.
Kritik keras juga dilayangkan oleh Presiden LSM LIRA Indonesia, Samsuddin, yang merasa berang dengan adanya isu pembubaran oleh oknum anggota ormas tersebut. Menurutnya, di dalam negara demokrasi, ruang diskusi publik yang berjalan tertib semestinya difasilitasi dan dilindungi secara penuh oleh negara. Selain menyoroti masalah kebebasan sipil, Samsuddin dalam sesinya juga memberikan catatan kritis mengenai implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah, di mana ia meminta pengawasan ketat dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan anggaran di lapangan.
Bedah Kontekstual Pancasila dan Nalar Kritis Mahasiswa
Di sisi lain, mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, berhasil memukau ratusan peserta lewat pemaparan reflektifnya mengenai nilai-nilai Pancasila secara kontekstual dari sila pertama hingga kelima. Pemuda berusia 23 tahun tersebut mengajak generasi muda untuk membaca ulang esensi dasar negara di tengah carut-marutnya kondisi sosial-politik Indonesia saat ini. Tiyo secara kritis mempertanyakan pengulangan kata keadilan dan penyebutan eksplisit persatuan dalam teks Pancasila, yang menurutnya mengindikasikan bahwa para pendiri bangsa telah memprediksi tantangan besar yang akan dihadapi Indonesia di masa depan.
Tidak berhenti pada teori sejarah, Tiyo juga melayangkan nalar kritis terhadap kebijakan nasional terkini, termasuk efektivitas Program Makan Bergizi Gratis yang didanai oleh uang rakyat. Ia memperingatkan bahwa apabila penguasa menutup telinga dari evaluasi publik, maka gerakan mahasiswa di berbagai daerah diprediksi akan semakin masif dalam beberapa bulan ke depan. Kiprah intelektual Tiyo ini pun mendapat apresiasi tinggi dari Khairul Anam, mantan Ketua Badko HMI Jatim, yang menilai kemampuan Tiyo dalam diskursus kebangsaan tingkat nasional sangat luar biasa di usianya yang masih muda. Kendati sempat diselimuti ketegangan sebelum dimulai, seluruh rangkaian acara ditutup dengan aman, tertib, dan kondusif, bahkan dilanjutkan dengan diskusi santai antara Tiyo dan sejumlah aliansi BEM di luar gedung.
Sumber: detik.com