Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi mulai mengintegrasikan teknologi modern ke dalam kurikulum sekolah formal. Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dan coding kini telah ditetapkan sebagai mata pelajaran pilihan di satuan pendidikan. Kebijakan strategis ini dirancang untuk menjawab tantangan zaman sekaligus memastikan generasi muda Indonesia memiliki daya saing yang kuat di kancah global. Sebagai langkah awal, materi pembelajaran ini akan mulai diperkenalkan kepada siswa mulai dari jenjang kelas V Sekolah Dasar (SD).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa penerapan kebijakan ini dilakukan secara bertahap. Hal ini dikarenakan pemerintah harus memastikan kesiapan infrastruktur di setiap satuan pendidikan serta memberikan pelatihan yang matang bagi para guru yang akan mengajar. Melalui skema mata pelajaran pilihan, sekolah dapat menyesuaikan implementasinya sesuai dengan kapasitas masing-masing, sebelum nantinya perluasan program dilakukan ke lingkup yang lebih masif.
Pentingnya Nilai Kemanusiaan dan Karakter Dalam keterangan tertulisnya, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa esensi dari kurikulum baru ini tidak sekadar melatih kemampuan teknis siswa dalam mengoperasikan teknologi tingkat tinggi. Lebih dari itu, fokus utama pemerintah adalah menanamkan etika, tata krama, serta nilai kemanusiaan yang kuat saat berinteraksi dengan teknologi tersebut. Pendidikan karakter tetap diposisikan sebagai fondasi utama yang diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah, bukan sebagai materi yang berdiri sendiri.
Memosisikan teknologi AI sebagai alat bantu penguat kemanusiaan, bukan pengganti peran manusia.
Menanamkan nilai moral dan etika digital sejak dini untuk mencegah penyalahgunaan teknologi.
Mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam ekosistem dan budaya belajar di sekolah.
Menjawab Tantangan Global dan Era Disrupsi Digital Langkah progresif ini juga diambil untuk merespons dinamika global, di mana AI telah memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari riset, dunia kerja, hingga cara manusia memperoleh pengetahuan. Meskipun berbagai kajian global menunjukkan potensi AI yang dapat menggantikan sejumlah profesi, teknologi ini secara bersamaan juga membuka lapangan pekerjaan dan peluang baru yang luas. Menurut Mu'ti, tantangan terbesar berada pada mereka yang gagap teknologi, sementara mereka yang mampu menguasai AI akan menjadi semakin berdaya di masa depan.
Di sisi lain, Kemendikdasmen juga menyoroti maraknya ancaman digital di era kecerdasan buatan, seperti manipulasi konten digital, pemalsuan gambar, suara, hingga narasi palsu (deepfake) yang berpotensi merusak reputasi. Fenomena budaya scrolling yang membuat masyarakat cenderung menyerap informasi secara instan dan dangkal juga menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, penguatan literasi digital, etika, dan tata krama dalam bermedia sosial dirasa mendesak untuk diajarkan di sekolah agar siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam bertindak di ruang digital.
Sumber: kompas.com